Tutur

Menelusuri Jejak Sejarah Lebaran Ketupat: Lebih dari Sekadar Tradisi Makan

Di balik gurihnya opor dan anyaman janur yang rapi, Lebaran Ketupat menyimpan narasi besar tentang dakwah, filsafat, dan harmoni sosial di Nusantara. Tradisi yang dirayakan seminggu setelah 1 Syawal ini merupakan warisan luhur yang telah diakui secara resmi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

  1. Diplomasi Budaya Sunan Kalijaga

Catatan sejarah dari Kemendikbud mengonfirmasi bahwa tokoh kunci di balik tradisi ini adalah Sunan Kalijaga. Beliau menggunakan ketupat sebagai media dakwah yang cerdas. Saat itu, masyarakat diperkenalkan pada dua perayaan besar:

Bakda Lebaran: Perayaan kemenangan tepat pada 1 Syawal.

Bakda Kupat: Perayaan yang dilakukan setelah menyelesaikan puasa sunnah Syawal selama 6 hari. Ini adalah bentuk apresiasi spiritual bagi mereka yang menyempurnakan ibadahnya.

 

  1. Filosofi “Laku Papat” (Empat Tindakan)

Secara etimologi, kata “Kupat” dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat (mengakui kesalahan). Namun, secara resmi, maknanya meluas menjadi Laku Papat, yaitu empat filosofi hidup yang harus dijalankan setelah Ramadhan:

Lebaran: Menandakan pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan: Simbol kedermawanan dan berbagi rezeki (zakat/sedekah).

Leburan: Momen untuk melebur dosa melalui saling memaafkan.

Laburan: Berasal dari kata kapur (labur), yang berarti menjaga diri agar tetap putih bersih secara lahir dan batin.

 

  1. Simbolisme Material: Dari Janur hingga Nasi Putih

Pemerintah dan para pakar budaya sering menekankan bahwa setiap unsur fisik ketupat memiliki makna:

Janur: Berasal dari frasa Sejatine Nur (Cahaya Sejati), melambangkan manusia yang kembali ke fitrah.

Anyaman Rumit: Menggambarkan jalan hidup manusia yang penuh liku, kesalahan, dan tantangan.

Isi Nasi Putih: Melambangkan kesucian hati yang didapat setelah berhasil melewati “anyaman” ujian hidup selama sebulan penuh.

 

  1. Perayaan Nasional yang Beragam

Kini, Lebaran Ketupat telah menjadi agenda wisata religi nasional. Di berbagai daerah, bentuk perayaannya berkembang secara unik:

Jawa Tengah & Yogyakarta: Identik dengan festival gunungan ketupat yang dikirab di alun-alun.

Lombok (Lebaran Topat): Masyarakat berkumpul di Makam Loang Baloq untuk berdoa dan makan bersama di tepi pantai.

Manado: Dikenal sebagai perayaan yang sangat inklusif, di mana semua warga lintas agama ikut berkunjung dan bersilaturahmi.

Lebaran Ketupat adalah pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal perayaan fisik, melainkan tentang konsistensi beribadah (Puasa Syawal) dan kemauan untuk rendah hati mengakui kesalahan (Ngaku Lepat).

Editor

Recent Posts

Imbas Lebaran Ketupat, Arus Balik Diduga Melonjak Pada 28 dan 29 Maret

SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Perhubungan mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi potensi lonjakan arus balik yang diperkirakan…

1 jam ago

Arus Balik Lebaran 2026: Kakorlantas & Dirut Jasa Marga Cek Tol Japek II Selatan

SATUJABAR, BEKASI - Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H.,…

1 jam ago

Presiden Prabowo Bertemu Penasihat Danantara Ray Dalio di Istana Negara

SATUJABAR, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menerima salah satu penasihat Danantara, Ray Dalio, di Istana…

2 jam ago

Kenapa Peringatan Bandung Lautan Api 24 Maret Ditunda? Ini Penjelasan Wali Kota

SATUJABAR, BANDUNG - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memastikan peringatan Bandung Lautan Api tahun ini…

2 jam ago

PBSI Resmi Rekrut 8 Atlet Gabung Pelatnas, Ini Daftarnya

SATUJABAR, JAKARTA - Pengurus Pusat PBSI secara resmi memanggil atlet-atlet peraih juara Seleksi Nasional (Seleknas)…

2 jam ago

Farhan: PPPK Aman, Tidak Ada PHK

SATUJABAR, BANDUNG - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan belanja pegawai tetap berada di bawah batas…

2 jam ago

This website uses cookies.