Gaya Hidup

Kopi Indonesia Makin Mendunia, Inovasi Kopi Fermentasi Khas Indonesia

SATUJABAR, JAKARTA – Kabar yang sungguh menarik dari bilik kantor Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, (Ekraf) yang terus memperkuat subsektor kuliner, khususnya gastronomi. Kementerian berkolaborasi dengan pelaku usaha kreatif. Seperti diungkapkan saat audiensi Wamen Ekraf, Irene Umar, bersama Kedai Kopi Jo, yang menghadirkan inovasi kopi fermentasi khas Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Wamen Ekraf menyoroti keunikan Kopi Jo yang mengangkat cita rasa kopi nusantara melalui teknik peraman (aging) yang khas. Ia juga memperkenalkan produk ini kepada delegasi negara sahabat sebagai bagian dari upaya promosi kekayaan kuliner Indonesia di tingkat global.

“Buat aku ini merupakan sesuatu yang unik, kami siap berkolaborasi untuk memperkenalkan cita rasa kopi nusantara ini dari daerah untuk diperkenalkan ke nasional,” ujarnya saat audiensi di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (6 Mei 2026).

Berawal dari berbagai kegiatan lokal, Kopi Jo merupakan kedai kopi asal Yogyakarta yang berkembang sejak 2009. Produk unggulannya memadukan kopi dengan rempah melalui proses fermentasi khusus yang menghasilkan karakter rasa berbeda.

Kementerian Ekraf memandang potensi kopi Indonesia tidak hanya terletak pada komoditas biji, tetapi juga pada keragaman resep tradisional yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Berbagai jenis minuman seperti kopi takar, kopi rarobang, hingga inovasi seperti Kopi Jo dinilai sebagai bagian dari kekayaan intelektual kuliner yang perlu dikembangkan.

Pemilik Kopi Jo, Johanes Tan Joana Jaja, menjelaskan, proses tersebut memiliki tahapan unik yang menjadi ciri khas produknya.

“Dengan karakteristik asam akan naik. Itu yang kita peram nantinya, kita aging lagi cuma tambah gula, masukin ke topldengan waktu 6–7 bulan. Itu yang nantinya akan diambil panen,” jelasnya.

Founder Gastronusa, Edwin Pangestu, menekankan pentingnya memperkenalkan ragam olahan kopi sebagai identitas kreatif bangsa.

“Agar jika kita mau ngomongin kopi kan bukan hanya jualan komoditi biji kopinya, tetapi menu seperti ini harus diperkenalkan karena ini adalah salah satu kekayaan intelektual (IP) juga kan sebenarnya,” ujarnya.

Audiensi ini turut dihadiri pemilik Kopi Jo Chrisanty Evielina Rosario serta Business Development Director Gastronusa Vivin Puspitarini. Wamen Ekraf didampingi oleh Staf Khusus Menteri Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Data Jago Anggara serta Direktur Kuliner Romi Astuti.

Editor

Recent Posts

Marbot Masjid Ditemukan Tewas Penuh Luka di Purwakarta

SATUJABAR, PURWAKARTA--Seorang marbot masjid ditemukan tewas penuh luka di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Korban yang…

6 jam ago

Bupati Garut Soroti Pajak Hotel dan Restoran

Bupati Garut menyoroti besarnya potensi penerimaan daerah dari sektor pajak hotel dan restoran seiring meningkatnya…

8 jam ago

BRIN Gelar Pameran Inovasi dan Teknologi di Istana Kepresidenan

SATUJABAR, JAKARTA – BRIN atau Badan Riset dan Inovasi Nasional menggelar Pameran Inovasi dan Teknologi…

8 jam ago

Aset Industri Keuangan Syariah Tahun 2025 Capai Rp3.131,02 triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Aset industri keuangan syariah nasional pada tahun 2025 mencapai Rp3.131,02 triliun terdiri dari aset perbankan…

9 jam ago

Kasus Penebangan Pohon di Kota Bandung, Polisi Belum Terima Laporan

SATUJABAR, BANDUNG--Polrestabes Bandung, Jawa Barat, belum menerima laporan terkait kasus penebangan pohon di Jalan LL.…

10 jam ago

Anak Pejabat di Lampung Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan di Bandung

SATUJABAR, BANDUNG--Anak pejabat di Lampung ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan di Kota Bandung, Jawa Barat.…

10 jam ago

This website uses cookies.