Pertambangan di Indonesia.(FOTO: Humas Kementerian ESDM)
SATUJABAR, JAKARTA – Ambisi Indonesia menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi baterai. Di tengah upaya membangun ekosistem industri EV berbasis nikel melalui hilirisasi, pasar global justru mulai mengadopsi berbagai teknologi baterai alternatif yang tidak sepenuhnya bergantung pada nikel.
“Dari beberapa kali diskusi dengan para narasumber, banyak sekali teknologi baru yang muncul. Jangan sampai kebijakan kita terlambat beradaptasi dengan teknologi yang baru,” ujar Peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PREIJP) BRIN, Sigit Setiawan, dalam Webinar Science to Policy Dialogue Seri ke-2 bertajuk “Tantangan Industri EV di Indonesia: Menavigasi Peluang, Inovasi, dan Daya Saing”, Rabu (24/6) seperti dikabarkan Humas BRIN.
Sigit menjelaskan, hasil kajian yang dilakukan BRIN menunjukkan bahwa industri kendaraan listrik tidak bergerak menuju satu teknologi baterai tunggal. Sebaliknya, berbagai teknologi terus berkembang dan bersaing sesuai kebutuhan pasar serta keunggulan masing-masing.
Kondisi tersebut menimbulkan paradoks bagi Indonesia. Di satu sisi, pemerintah telah mendorong investasi besar untuk membangun rantai pasok kendaraan listrik berbasis nikel. Namun di sisi lain, pasar kendaraan listrik global mulai mengarah pada penggunaan teknologi baterai alternatif.
“Indonesia membangun ekosistem industri EV berbasis nikel melalui hilirisasi, sementara pasar EV global dan domestik secara bersamaan mulai beralih ke teknologi baterai lain,” katanya.
Salah satu teknologi yang mendapat perhatian adalah sodium-ion battery. Baterai ini memanfaatkan sodium yang lebih melimpah dan berpotensi menawarkan biaya produksi lebih rendah dibanding beberapa teknologi baterai berbasis nikel. Jika mampu berkembang dan menguasai segmen pasar tertentu, teknologi ini berpotensi menekan permintaan nikel untuk aplikasi kendaraan listrik.
Selain itu, perkembangan baterai solid-state, Lithium Iron Phosphate (LFP), dan Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP) juga menunjukkan pergeseran arah industri baterai global. Menurut Sigit, teknologi LFP semakin banyak digunakan karena biaya produksinya lebih rendah, memiliki umur pakai yang panjang, serta tidak memerlukan nikel sebagai bahan utama.
“Dominasi LFP dan perkembangan LMFP di segmen kendaraan listrik utama serta penyimpanan energi secara langsung dapat mengurangi permintaan nikel,” ujarnya.
Perubahan lanskap teknologi tersebut membawa sejumlah risiko bagi investasi yang telah diarahkan pada industri berbasis nikel. Risiko tersebut mencakup potensi kelebihan kapasitas produksi, tekanan terhadap harga nikel, hingga kemungkinan menurunnya nilai aset industri apabila teknologi global berkembang ke arah yang berbeda.
“Masalahnya bukan hanya bagaimana memperbesar produksi satu jenis material, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang mampu mengikuti perubahan teknologi,” tegasnya.
Di samping tantangan teknologi, Indonesia juga perlu meningkatkan daya saing industrinya. Produksi baterai membutuhkan energi dalam jumlah besar, standar manufaktur yang ketat, serta efisiensi biaya yang tinggi. Kondisi iklim tropis yang menuntut pengendalian suhu dan kelembapan dalam fasilitas produksi turut menambah biaya operasional. Sementara itu, pasar global semakin menuntut penggunaan energi rendah karbon dalam proses manufaktur.
Sigit juga menyoroti dominasi negara-negara lain dalam rantai pasok baterai global. Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan keunggulan sumber daya mineral, tetapi juga perlu memperkuat kapasitas teknologi, manufaktur, riset, serta pengembangan komponen pendukung kendaraan listrik, termasuk perangkat lunak dan sistem manajemen baterai.
Untuk menghadapi dinamika tersebut, ia mendorong agar strategi industri nasional lebih fleksibel dan tidak terkunci pada satu jenis teknologi. Indonesia perlu mengembangkan berbagai opsi teknologi baterai, mulai dari baterai berbasis nikel, LFP, hingga sodium-ion dan teknologi baru lainnya. Pengembangan bahan baku alternatif seperti mangan serta penguatan kapasitas inovasi nasional juga dinilai penting untuk menjaga daya saing industri di masa depan.
“Yang dibutuhkan bukan hanya memperkuat satu komoditas, tetapi membangun ekosistem industri yang inovatif dan fleksibel,” ujarnya.
Menurut Sigit, masa depan industri kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi. Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam industri EV global, namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemampuan membaca arah perkembangan teknologi dan menyiapkan strategi yang lebih beragam.
“Jangan sampai kita hanya membangun industri untuk teknologi yang sudah mulai berubah. Yang harus dibangun adalah ekosistem yang mampu mengikuti perkembangan teknologi,” pungkasnya.
SATUJABAR, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) membukukan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025. Di tengah…
SATUJABAR, JAMBI - Sebanyak 444 jemaah haji BTH-20 asal Kota Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi…
SATUJABAR, BANDUNG--Penyidik Polda Jawa Barat masih mendalami kemungkinan ada korban Taufik Hidayat lainnya dalam kasus…
SATUJABAR, KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan raih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas LKPD Tahun…
SATUJABAR, JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat minat pelanggan terhadap Kereta Wisata Priority…
SATUJABAR, BANDUNG - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat Kereta Api Siliwangi relasi Sukabumi–Cipatat pp…
This website uses cookies.