Tutur

Di Tengah Sorotan Lampu Pagelaran Wayang Golek, Gubernur Dedi Sampaikan Pesan Pemimpin

Di tengah sorotan lampu panggung dan suara gamelan yang mengalun, sosok Gubernur Dedi Mulyadi muncul—bukan dalam balutan pidato resmi, tapi larut dalam suasana budaya bersama para seniman: Dalang Yogaswara Sunandar Sunarya, Ohang, Ade Batak, dan Mang Radja. Gelak tawa mengalir dari interaksi mereka, tetapi di balik canda, terselip makna-makna besar yang dituturkan dengan bahasa yang membumi.

“Pamingpin téh kudu leber wawanén,” ujar KDM, suaranya lantang namun hangat. Seorang pemimpin, menurutnya, harus punya keberanian sejati—yang tak gampang goyah, tak mudah tunduk oleh tekanan atau rayuan. “Ulah gampil kabawa. Anjeun kudu jujur, tegas, sarta daék nangtayungan rahayat jeung alam.”

KDM tak hanya bicara idealisme. Ia bicara soal tambang liar yang mengoyak tubuh bumi, tentang pengelolaan alam yang rakus, tanpa tanggung jawab. Ketegasan, katanya, harus hadir bukan sekadar dalam pidato, tapi dalam tindakan. “Pemerintah kudu wani nyegah,” ucapnya.

Tiba-tiba suasana berubah lebih tenang. Ia menyentil fenomena pendidikan zaman sekarang yang kadang kehilangan arah. Studi tour yang mahal, katanya, seringkali membebani orang tua. “Pendidikan téh teu kudu mewah. Anu penting eusi jeung nilaina,” ucap Dedi, mengajak semua kembali ke makna pendidikan yang sejati—sederhana, tapi menyentuh hati dan budi.

Lalu, dengan nada lebih dalam, ia bicara tentang bumi, tentang lingkungan yang mulai rusak, dan manusia yang semakin jauh dari kearifan leluhur. “Mun urang leungit kana ajén kahirupan, moal aya deui karapihan,” katanya lirih. Alam, menurutnya, bukan hanya tanah dan pohon, tapi bagian dari hidup manusia itu sendiri.

Di tengah panggung wayang itu, Dedi mengajak hadirin untuk kembali kepada Pancaniti, ajaran luhur Sunda yang kini mulai terlupakan. Nilai-nilai yang mengajarkan harmoni antara manusia, sesama, dan alam. “Pancaniti téh moal lapuk ku jaman. Urang kudu hirupkeun deui,” tegasnya.

Malam pun terus bergulir, gelak tawa kadang pecah saat Ohang dan kawan-kawan melontarkan candaan khas mereka, namun di sela-selanya, wajah-wajah di antara penonton mulai termenung. Wayang golek malam itu bukan hanya pertunjukan. Ia menjelma menjadi cermin—tentang siapa kita, ke mana kita menuju, dan warisan apa yang hendak kita jaga.

Editor

Recent Posts

Timur Tengah Memanas, Jajaran Kemlu Eratkan Komunikasi Dengan WNI

SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI)…

11 jam ago

Minta Maaf, Menag: Zakat Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan

SATUJABAR, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya terkait zakat yang…

11 jam ago

Kemenhaj Imbau Warga Tunda Umrah, Persiapan Haji Tetap Jalan

SATUJABAR, JAKARTA - Pemerintah mencermati perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang semakin dinamis…

11 jam ago

Kayu Raru Kandidat Herbal Antidiabetes, Ungkap BRIN

SATUJABAR, JAKARTA - Diabetes masih menjadi tantangan kesehatan global, termasuk di Indonesia. Hampir setengah miliar…

12 jam ago

Bupati Bogor Apresiasi Event ‘Dash Run’

SATUJABAR, CIBINONG - Bupati Bogor, Rudy Susmanto, mengapresiasi atas semangat luar biasa yang ditunjukkan anak-anak…

12 jam ago

Mantap! Daya Saing Kabupaten Sumedang Peringkat Satu di Jawa Barat, Peringkat Lima Nasional

SATUJABAR, SUMEDANG - Kabupaten Sumedang menempati peringkat pertama di Provinsi Jawa Barat dan peringkat kelima…

12 jam ago

This website uses cookies.