Alat kerja elektronik (pixabay)
BANDUNG – Guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Deddy Mulyana menghimbau akademisi komunikasi di Indonesia menghidupkan kembali tradisi menulis buku.
Menurutnya, obsesi atas publikasi di jurnal-jurnal terindeks Scopus sangat khas di negara-negara berkembang, berbeda dengan apa yang dikembangkan oleh akademisi di negara maju.
“Di Indonesia ini agak aneh, Scopus menjadi primadona. Kondisi ini menjadi standar negara-negara berkembang,” ujarnya dalam acara bedah buku karya terbarunya bertajuk “Teori-teori Komunikasi, Aplikasi Praktis” di Auditorium Fakultas Ilmu Komunikasi-Universitas Padjadjaran, Jatinangor-Sumedang, Rabu (14/8) melalui siaran pers.
Mulyana mengakui saat ini ada alasan struktural yang mengakibatkan turunnya minat para akademisi menulis buku. Dia menemukan sejumlah perguruan tinggi memberikan poin kinerja dosen lebih rendah untuk publikasi buku dibandingkan publikasi di jurnal terindeks Scopus.
Dibandingkan dengan di Indonesia, lanjutnya, kriteria kualitas dosen di AS lebih holistik. Di sana, kriteria kualitas dosen terlihat dari tingkat kerajinan dalam mengajar, pendekatan mengajar yang menarik, dan publikasi yang salah satunya berupa buku. Menulis buku sangat penting sebagai karya ilmiah.
“Di AS, buku itu ditulis oleh profesor-profesor yang jenjangnya lebih tinggi. Ada idiom yang menyatakan seseorang tidak akan bisa menjadi profesor sebelum dia menulis buku teks,” katanya.
Dia menunjukkan sejumlah buku karya akademisi ternama yang sampai saat ini masih sangat populer karena buku yang dihasilkannya seperti. Hingga saat ini buku-buku teks klasik karya Koentjaraningrat, Miriam Budiarjo, hingga Djalaluddin Rakhmat masih digunakan dan dikutip.
“Mereka lebih dikenal sebagai penulis buku, ketimbang sebagai penulis di artikel jurnal ilmiah. Meskipun mereka tetap memiliki publikasi di jurnal ilmiah,” paparnya.
Mulyana menyatakan beragam peristiwa aktual di masyarakat saat ini dapat dibedah dengan menggunakan teori-teori komunikasi. Melalui tujuh teori komunikasi dan dua metodologi yang tersaji di dalam buku ini, dia mengulas sejumlah peristiwa yang sempat menghebohkan publik, antara lain kasus Sambo, kasus Jessica, dan kematian Eril.
“Teori-teori komunikasi itu tidak selalu harus digunakan dalam karya ilmiah yang canggih seperti artikel di jurnal ilmiah atau buku. Melalui teori-teori konstruktivis, saya menyebutnya teori-teori interpretif, kita bisa melihat fenonema dengan perspektif dan cara yang berbeda. Kita bisa membedah realitas apapun,” ungkapnya.
Sejumlah akademisi mengapresiasi karya terbaru Deddy Mulyana yang selama ini dinilai produktif dalam menyebarkan buah pikirannya. Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad Atwar Bajari mengatakan Deddy Mulyana memiliki cara tersendiri dalam menjelaskan teori-teori komunikasi. Melalui berbagai narasi yang disajikan di dalam buku-buku teks karyanya, Bajari menilai Deddy Mulyana telah memberikan pendekatan yang khas bagi para pembaca yang ingin mempelajari beragam teori komunikasi.
Bahkan, Akademisi Unpad Subekti W. Priyadharma merefleksikan Mulyana sebagai interpretivis murni. “Pesan moral dan pesan religius jadi kekhasan tulisan beliau sekaligus pemaknaan terhadap realitas sosial.”
Di sisi lain, Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik LSPR Lely Arianne dan Guru Besar Ilmu Komunikasi Unisba Neni Yulianita mengakui berbagai publikasi karya Prof. Deddy Mulyana mengispirasi mereka untuk menulis.
SATUJABAR, BANDUNG - Piala Dunia 2026, Sabtu 27 Juni 2026 waktu setempat atau Minggu 28…
SATUJABAR, BOGOR - Gastrofest Kota Bogor 2026 resmi dibuka menjadi festival gastronomi pertama di Kota…
SATUJABAR, BOGOR - Warga Bogor dan sekitarnya tumpah ruah di Plaza Balai Kota Bogor, mereka…
SATUJABAR, CIBINONG – Rudy Susmanto, Bupati Bogor berharap Mojang Jajaka Kabupaten Bogor Tahun 2026 mampu…
SATUJABAR, JAKARTA – Kerajinan Sumedang mewarnai ajang Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB di Trans Studio…
SATUJABAR, JAKARTA- Kemenpora atau Kementerian Pemuda dan Olahraga menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Direktorat…
This website uses cookies.