Berita

BRIN: Wabah Pes Bisa Terjadi Lagi di Indonesia, Waspadalah!

SATUJABAR, SALATIGA – Indonesia pernah mengalami wabah pes pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa. Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia dan menular melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.

Meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, peneliti mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum tentu menandakan Indonesia sepenuhnya bebas dari pes.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menyebutkan adanya fenomena silent period, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali.

“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Ristiyanto, pada Kamis (9/4/2026) seperti dikabarkan Humas BRIN.

Ia menjelaskan, pes diduga masih berada dalam fase tersebut. Hal ini didukung oleh temuan bahwa bakteri penyebab, serta vektor dan reservoirnya seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Menurutnya, perubahan lingkungan menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin mendekat ke permukiman manusia.

“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Periset BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, bahwa perubahan iklim turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.

“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” ujarnya.

(Foto: BRIN)

Ia menegaskan, tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh hewan tersebut.

Meski tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, antara lain Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.

Choirul mengingatkan agar kondisi ini tidak dianggap sepele. Menurutnya, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya.

Sebagai langkah antisipasi, ia merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pemantauan wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.

 

Editor

Recent Posts

UMKM BISA Ekspor Semakin Efektif, Capaian Triwulan I-2026 Tembus USD 23,60 Juta

SATUJABAR, JAKARTA - Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM…

31 menit ago

Tiba di Moskow, Presiden Prabowo Usung Misi Kerja Sama Startegis

SATUJABAR, JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di Bandara Vnukovo-2 di Moskow, Federasi…

35 menit ago

‘Adu Banteng’ Mobil Brio vs Bus Pariwisata di Jalan Nasional Ciamis, Sopir Terjepit

SATUJABAR, CIAMIS--Peristiwa kecelakaan lalu-lintas terjadi di Jalan Nasional Ciamis, Jawa Barat, Senin (13/04/2026). Mobil Honda…

44 menit ago

INFO HAJI 2026: Arab Saudi Mulai Batasi Akses Masuk Makkah Mulai 13 April 2026

SATUJABAR, JAKARTA – Akses masuk ke Kota Suci Makkah sudah mulai dibatasi Pemerintah Arab Saudi…

1 jam ago

ASEAN Makin Solid, Siap Hadapi Tekanan Global

SATUJABAR, JAKARTA - Penguatan langkah kebijakan dan kerja sama terus dilakukan ASEAN untuk menjaga stabilitas…

2 jam ago

Penjualan Eceran Maret 2026 Diduga Tetap Tumbuh

SATUJABAR, BANDUNG – Survei Bank Indonesia menyebutkan kinerja penjualan eceran pada Maret 2026 diprakirakan tetap…

2 jam ago

This website uses cookies.