Berita

BMKG Peringati Hari Meteorologi Dunia ke-75 dengan Fokus pada Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

BANDUNG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memainkan peran penting dalam memberikan peringatan dini terkait cuaca ekstrem di Indonesia. Data yang diperoleh dari berbagai sumber dianalisis oleh para ahli meteorologi untuk mendeteksi potensi terjadinya fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-75 yang diadakan di Jakarta pada Sabtu (22/3), menjelaskan bahwa BMKG bekerja tanpa henti selama 24 jam untuk memastikan akurasi informasi peringatan dini cuaca ekstrem. Proses ilmiah yang cermat dilakukan untuk menghasilkan data yang akurat, yang kemudian disebarluaskan ke masyarakat.

“BMKG memantau kondisi atmosfer laut dan daratan dengan berbagai alat canggih, seperti radar cuaca, satelit, dan stasiun pengamatan,” ujar Dwikorita. Ia juga menyebutkan tema HMD ke-75, Closing The Early Warning Gap Together, sebagai refleksi yang harus dilakukan secara serius oleh seluruh pihak, termasuk Indonesia sebagai negara rawan bencana sepanjang tahun.

Sejak 1 Januari hingga 17 Maret 2025, BMKG mencatat terdapat 1.891 kejadian cuaca ekstrem di Indonesia, yang terdiri dari puting beliung (43 kejadian), angin kencang (400 kejadian), hujan lebat (1.182 kejadian), petir (55 kejadian), dan hujan es (11 kejadian). Cuaca ekstrem ini menimbulkan dampak serius, seperti banjir (721 kejadian), pohon tumbang (371 kejadian), tanah longsor (374 kejadian), kerusakan bangunan (553 kejadian), dan gangguan transportasi (567 kejadian). Selain itu, sebanyak 115 orang menjadi korban jiwa atau luka, dan ribuan lainnya terdampak.

Pada awal Maret 2025, hujan lebat menyebabkan banjir di wilayah Jabodetabek, yang mempengaruhi lebih dari 37 ribu kepala keluarga. BMKG mengungkapkan bahwa fenomena cuaca ekstrem ini terjadi akibat dinamika atmosfer dan munculnya bibit siklon di dekat wilayah Indonesia, yang menyebabkan potensi curah hujan tinggi di beberapa wilayah.

Pentingnya Kolaborasi Pentahelix dalam Mitigasi Bencana

Dwikorita menekankan bahwa efektivitas peringatan dini bergantung pada respon cepat dari semua pihak terkait. BMKG tidak bisa bekerja sendirian dalam menghadapi cuaca ekstrem dan memerlukan kolaborasi dengan berbagai instansi. Kolaborasi pentahelix—yang melibatkan BMKG, pemerintah daerah, BNPB, Badan SAR, media massa, TNI, Polri, dan masyarakat—merupakan kunci untuk mengurangi dampak bencana.

BMKG membagi mata rantai kebencanaan Indonesia dalam tiga tahap: pemberian informasi peringatan dini oleh BMKG, implementasi oleh pemerintah daerah dan berbagai lembaga terkait, serta respon masyarakat di hilir. Keterpaduan antar pihak ini sangat penting untuk menutup gap informasi peringatan dini dan mengurangi risiko bencana.

“Jika alur komunikasi ini berjalan lancar, kami yakin informasi peringatan dini cuaca ekstrem dan bencana lainnya dapat dimitigasi bersama untuk keselamatan masyarakat,” kata Dwikorita.

BMKG telah memanfaatkan berbagai saluran komunikasi untuk menyebarkan informasi cuaca, seperti media sosial, aplikasi InfoBMKG, SMS blast, WhatsApp Channel, dan website resmi mereka (http://www.bmkg.go.id). Dwikorita juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menanggapi peringatan dini, dengan mengedepankan langkah antisipatif untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

Kesiapsiagaan Masyarakat dan Koordinasi Antar Lemaga

Dalam upaya mitigasi bencana, Dwikorita mengajak masyarakat untuk lebih aktif mengakses informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. Masyarakat yang terinformasi dengan baik dapat mengambil langkah pencegahan lebih dini, sehingga dampak bencana dapat diminimalkan.

“Mata rantai yang efektif sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan mengurangi dampak bencana. Kolaborasi yang baik antar lembaga dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam penanggulangan bencana,” tutupnya.

Editor

Recent Posts

Ciremai Coffee Culture Festival: Menyedu Semangat Warga Kuningan

KUNINGAN – Ciremai Coffee Culture Festival mewarnai Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan. Kuningan Kopi Festival…

30 menit ago

KAI Expo 2026, Kemenpar: Dorong Pariwisata Indonesia

JAKARTA - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendukung penyelenggaraan KAI Expo 2026 yang menawarkan perjalanan kereta api…

43 menit ago

Jelajah Wastra Nusantara Angkat Wisata Budaya

JAKARTA - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan pameran wastra bertajuk “Jelajah Indonesia Wastra Nusantara” di Rama…

46 menit ago

Bandara Husein: Target Penerbangan Internasional Oktober 2026

BANDUNG - Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung terus menunjukkan perkembangan positif seiring upaya menghidupkan kembali…

59 menit ago

Hari Pelanggan Nasional, Pertamina Patra Niaga Regional JBB Hadir Menyapa di SPBU COCO Jakarta

JAKARTA– Dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional 2026, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian…

1 jam ago

LA LIGA 2026-2027: Real Madrid Apes, Tumbang 0-1 dari Betis

La Liga 2026-2027 masuki pekan ke-empat. Real Madrid tak mampu cetak gol saat tandang ke…

2 jam ago

This website uses cookies.