Berita

Bagaimana Satelit Bisa Mengorbit Bumi di Angkasa? Ini Penjelasan BRIN

SATUJABAR, JAKARTA – Satelit kini menjadi bagian penting dalam kehidupan modern, mulai dari komunikasi, cuaca, hingga pemantauan lingkungan. Namun, bagaimana sebenarnya satelit dapat “bertahan” mengorbit di angkasa?

Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Satriya Utama, menjelaskan setiap satelit yang mengorbit Bumi harus bergerak dengan kecepatan tertentu agar tetap berada di lintasannya. Kecepatan ini bergantung pada ketinggian orbit.

Misalnya, orbit rendah atau low earth (LEO) sekitar 600 kilometer dari permukaan Bumi, memerlukan kecepatan sekitar 7,56 km/s. Sementara itu, orbit geostasioner (GEO) sekitar 35.786 km dari permukaan Bumi hanya memerlukan sekitar 3,075 km/s.

“Semakin rendah orbit, semakin besar tarikan gravitasi, sehingga satelit harus bergerak lebih cepat. Sebaliknya, di orbit tinggi kecepatan yang dibutuhkan lebih rendah,” jelas Satriya, dalam Pelatihan Dasar Operasi Satelit Low Earth Orbit (LEO), secara daring, Rabu (10/9) dikutip Humas BRIN.

Terdapat beberapa hukum dasar yang mengatur orbit. Dua teori utama yang menjadi pijakan adalah Hukum Kepler dan Gravitasi Newton.

Hukum Kepler yaitu planet dan satelit bergerak pada lintasan elips, dengan pusat massa di salah satu fokus. Sementara Gravitasi Newton yaitu semua benda bermassa saling tarik-menarik.

“Besarnya gaya bergantung pada massa dan jarak. Dari hukum ini, lahirlah konsep kecepatan orbit dan kecepatan lepas atau escape velocity,” sebut Satriya.

Dia menerangkan orbit satelit tidak sepenuhnya stabil. Namun, terdapat faktor-faktor yang memengaruhinya, yaitu berupa hambatan atmosfer.

“Meskipun tipis, ternyata atmosfer di ketinggian rendah masih dapat memperlambat satelit yang mengakibatkan orbitnya makin lama makin turun,” jelas Satriya.

Bentuk Bumi yang tidak sempurna juga menjadi faktor tidak stabilnya orbit Bumi. Satriya mengatakan distribusi massa Bumi yang tidak merata menyebabkan perubahan orientasi orbit secara perlahan.

 

Jenis-Jenis Orbit

Dalam pelatihan ini, Satriya menjelaskan jenis-jenis orbit yang dapat dipilih sesuai kebutuhan misi satelit. Orbit tersebut yaitu LEO pada ketinggian 400 hingga 1500 kilometer di atas permukaan Bumi. Orbit ini cocok untuk satelit penginderaan jauh.

Jika menggunakan orbit ini, satelit bergerak cepat dengan periode orbit 90 hingga 100 menit dan kontak dengan stasiun bumi dalam jarak waktu singkat, yaitu 10 hingga 20 menit.

Orbit berikutnya yaitu medium earth orbit (MEO), banyak dipakai untuk sistem navigasi seperti GPS.

Selanjutnya, terdapat geostationary orbit (GEO) pada ketinggian 35.786 kilometer di atas permukaan Bumi. Satelit di orbit tersebut tampak diam di atas satu titik ekuator dan digunakan untuk komunikasi serta siaran langsung.

Orbit berikutnya yaitu sun-synchronous orbit (SSO) atau orbit sinkron dengan Matahari. Pada orbit ini, satelit melintas pada waktu lokal yang sama setiap hari, sehingga pencahayaan konsisten untuk penginderaan jauh.

Saat ini, satelit buatan Indonesia beroperasi pada orbit LEO. Satelit LEO hanya terlihat dari satu stasiun bumi selama 10–15 menit per lintasan.

“Waktu singkat ini harus dimanfaatkan untuk mengunduh data dan mengunggah perintah. Solusi memperpanjang akses data tersebut adalah dengan memperbanyak ground station,” ujar Satriya.

Dengan demikian, di Indonesia, terdapat empat stasiun bumi, yaitu di Tabing (Sumatra Barat), Parepare (Sulawesi Selatan), Biak (Papua), dan Rancabungur (Bogor) sebagai pusat kendali.

Editor

Recent Posts

Harga Emas Kamis 15/1/2026 Rp 2.675.000 Per Gram

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Antam Kamis 15/1/2026 dikutip dari situs logammulia.com dijual Rp 2.675.000…

2 jam ago

Rekomendasi Saham Kamis (15/1/2026) Emiten Jawa Barat, IHSG 9.032,30

SATUJABAR, BANDUNG – Rekomendasi saham Kamis (15/1/2026) emiten Jawa Barat. Berikut harga saham perusahaan go…

4 jam ago

Soal Kepulan Asap di Area Tambang PT Antam, Bupati Bogor Cek TKP

SATUJABAR, NANGGUNG BOGOR - Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten…

4 jam ago

Pemkab Sumedang Bangun Bendung Cariang Ujungjaya

SATUJABAR, SUMEDANG - Harapan panjang para petani di Kecamatan Ujungjaya akhirnya mulai terwujud. Pemerintah kini…

4 jam ago

Piala Afrika 2026: Maroko x Senegal di Final

SATUJABAR, BANDUNG – Maroko membuka peluang untuk menjadi juara Piala Afrika 2026 di kandang mereka…

4 jam ago

Cerita Penanganan Medis Abah Ade di RSUD Kota Bandung, Korban Penganiaayaan Bang Jago di Bandung Timur

SATUJABAR, BANDUNG – Viral di media sosial seorang kakek bernama Ade Dedi -kerap disapa Abah…

5 jam ago

This website uses cookies.