Berita

Sama dengan Muhammadiyah, Arab Saudi Tetapkan Awal Puasa 18 Februari 2026

SATUJABAR, YOGYAKARTA – Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) telah menetapkan bahwa 1 Ramadan akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Menariknya, penetapan ini juga menunjukkan keselarasan faktual dengan kalender Ummul Qura di Arab Saudi.

Satu hal yang sering memicu pertanyaan adalah mengapa Muhammadiyah kerap merujuk pada wilayah yang jauh, seperti Alaska, dalam menentukan awal bulan. Apakah kita harus menengok ke belahan bumi utara hanya untuk mulai berpuasa di Indonesia?

Jawabannya terletak pada konsistensi. Muhammadiyah memegang teguh hasil Kongres Internasional Penyatuan Kalender 2016 di Istanbul yang menetapkan kriteria visibilitas pada tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat. Secara matematis, pada tanggal 17 Februari petang, kriteria ketat ini terpenuhi di wilayah Amerika Utara (termasuk Alaska).

Namun, jika kita menarik garis ke titik yang lebih dekat secara emosional dengan umat Islam, yakni Kakbah, faktanya tidak jauh berbeda. Menurut Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhamad Rofiq Muzakkir pada Selasa (17/02), secara de facto, pelaksanaan puasa kita kemungkinan besar akan berbarengan dengan Ummul Qura di Arab Saudi.

Kalender Ummul Qura yang digunakan Saudi Arabia memiliki karakteristik yang unik. Berdasarkan situs resminya, Ummul Qura menggunakan prinsip bahwa asal bulan terbenam setelah matahari (moonset after sunset), maka bulan baru sudah dimulai. Tidak ada syarat ketinggian minimum tertentu.

Pada petang hari tanggal 17 Februari di Mekah, posisi bulan sudah berada di atas ufuk (positif). Artinya, menurut kriteria Ummul Qura, syarat masuknya bulan baru sudah terpenuhi. Dengan demikian, penduduk di tanah suci pun akan memulai tarawih di malam yang sama dengan warga Muhammadiyah di Indonesia.

Perlu dipahami bahwa perbedaan istilah atau rujukan geografis hanyalah persoalan metodologi untuk mencapai akurasi. Muhammadiyah menyebut “Alaska” bukan untuk gaya-gayaan atau menjauhkan diri dari realitas lokal, melainkan bentuk kepatuhan pada keputusan Munas Tarjih di Pekajangan yang mengadopsi standar global.

Pada akhirnya, tanggal 18 Februari 2026 menjadi titik temu yang menarik. Meskipun berangkat dari kriteria yang berbeda, Muhammadiyah dan Ummul Qura bermuara pada kesimpulan yang sama.

 

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Editor

Recent Posts

Menlu Sugiono Temui Dubes Palestina di PBB, Ungkapkan Konsistensi Dukungan Untuk Rakyat Palestina

SATUJABAR, NEW YORK – Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Tetap…

1 jam ago

Bertemu Sekjen PBB, Menlu Sugiono Bahas Situasi dan Upaya Perdamaian Palestina

SATUJABAR, NEW YORK AS – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, melakukan pertemuan bilateral dengan…

1 jam ago

Buku Klasik Islam Abad Ke-18 Ini Prediksikan Awal Puasa 18 Februari 2026 dan Lebaran Jum’at 20 Maret 2026

SATUJABAR, YOGYAKARTA - Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh…

1 jam ago

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Ajak Umat Jadikan Ramadan sebagai Kanopi Sosial

SATUJABAR, YOGYAKARTA – Umat Islam di seluruh dunia akan memulai puasa Ramadhan 1447 H. Boleh jadi…

2 jam ago

Jelang Musim Mudik Lebaran 2026, Menhub Temui Gubernur Lampung

SATUJABAR, BANDAR LAMPUNG – Jelang musim mudik Lebaran 2026, kali ini Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi…

2 jam ago

Bandel! Sejumlah Tempat Hiburan Tetap Buka Saat Libur Imlek Ditindak!

SATUJABAR, BANDUNG – Sejumlah tempat hiburan di Kota Bandung ditindak oleh Satuan Polisi Pamong Praja…

2 jam ago

This website uses cookies.