Berita

Puluhan Paus Pemandu Terdampar di Alor: Tanda Gangguan Ekosistem?

BANDUNG – Beberapa pekan lalu, puluhan paus pemandu sirip pendek terdampar di pesisir Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor, NTT. Kejadian ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia, namun menimbulkan kekhawatiran akan adanya gangguan terhadap ekosistem.

Peneliti dari James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma Mustika, yang akrab disapa Icha, menjelaskan bahwa terdamparnya paus dapat disebabkan oleh faktor alami maupun antropogenik. Paus, sebagai mamalia laut yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, dapat terganggu oleh penggunaan sonar, pencemaran air, dan kontaminasi sampah laut.

“Penggunaan sonar di bawah laut dan pencemaran dapat mengganggu sistem navigasi paus yang menggunakan sonar,” ujar Icha melalui keterangan resmi BRIN.

Ia juga menyoroti dampak buruk sampah laut, terutama plastik, yang dapat membunuh paus yang tidak sengaja menelannya. Selain itu, badai matahari dapat menyebabkan gangguan elektromagnetik yang mempengaruhi navigasi paus.

Icha menambahkan bahwa faktor alami, seperti penyakit atau usia tua, juga membuat paus lebih rentan terdampar. “Paus yang sakit atau tua sering terpisah dari kawanan, sehingga lebih mungkin terdampar di pantai,” katanya.

Kejadian ini memerlukan perhatian serius karena paus adalah spesies yang dilindungi. Jejaring penanganan mamalia laut terdampar di Indonesia, yang melibatkan pegiat lingkungan, pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat, terus bekerja sama untuk menangani kasus ini.

Upaya termasuk mengembalikan paus yang masih hidup ke laut dan menguburkan yang sudah mati. Penyelidikan lebih lanjut juga diperlukan melalui nekropsi untuk memahami penyebab spesifik terdamparnya paus.

Riset

Achmad Sahri, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Oseanografi BRIN, menjelaskan bahwa mereka tengah melakukan riset bersama Icha dan peneliti dari Amerika Serikat untuk memahami pola distribusi kejadian terdamparnya paus di Indonesia. Riset ini mencakup data terdampar selama 26 tahun, dari 1995 hingga 2021.

“Selama periode tersebut, ada 26 spesies paus dan lumba-lumba yang terdampar di perairan Indonesia, dengan paus pemandu sirip pendek menjadi salah satu yang paling sering terdampar,” ungkap Sahri. Dengan memahami pola sebaran kejadian ini, diharapkan upaya penyelamatan biota laut dapat lebih efektif.

Kedua peneliti mengimbau masyarakat di sekitar pesisir untuk melaporkan kejadian serupa kepada pihak berwenang dan tidak mengganggu paus yang terdampar. Penanganan yang tepat sangat penting untuk keselamatan hewan tersebut.

Melihat meningkatnya frekuensi terdamparnya paus, BRIN dan berbagai pihak akan terus melakukan penelitian untuk mencari solusi pencegahan yang lebih efektif dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem laut.

Editor

Recent Posts

Koordinasi Manajemen Talenta, Erick Thohir Usung Nilai Patriotik, Gigih, Empatik

SATUJABAR, JAKARTA - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, menghadiri Rapat Tingkat Menteri…

10 jam ago

ASEAN U-17 Boys Championship 2026: Indonesia Satu Grup Dengan Vietnam, Malaysia, dan Timor Leste

SATUJABAR, JAKARTA - Timnas Indonesia U-17 tergabung di Grup A pada ajang ASEAN U-17 Boys…

10 jam ago

Persis Ramadan Expo 2026, Dorong Penguatan UMKM dan Ekonomi Keumatan

SATUJABAR, BANDUNG - Pengurus Pusat Persatuan Islam (PP Persis) menggelar Persis Ramadan Expo 2026 yang…

10 jam ago

Perhatian! Pemkot Bandung Mulai Bangun Halte BRT di 232 Titik

SATUJABAR, BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perhubungan mulai membangun halte Bus Rapid Transit…

10 jam ago

All England 2026: ‘Young Guns’ Raymond/Joaquin Harus Tampil All Out di Semifinal

SATUJABAR, BIRMINGHAM – Tampil menggebrak sejauh ini, Raymod Indra/Nikolaus Joaquin cukup memupus kesedihan wakil Indonesia…

10 jam ago

Harga Emas Terbaru! Harga Emas Batangan Sabtu 7/3/2026 Rp 3.059.000 Per Gram

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Batangan Antam Sabtu 7/3/2026 dikutip dari situs Aneka Tambang dijual…

11 jam ago

This website uses cookies.