Berita

Penyakit Kusta di Indonesia, Kemenkes: Masih Ada Stigma

Penyakit kusta bukanlah penyakit kutukan, melainkan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

SATUJABAR, JAKARTA – Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat menghapus stigma terhadap kusta dan memahami bahwa penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila ditemukan sejak dini dan diobati secara tuntas.

Pesan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 bertema Percepatan Eliminasi Kusta: Komitmen Indonesia, Kolaborasi Global yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa penyakit kusta bukanlah penyakit kutukan, melainkan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Obat untuk menyembuhkan kusta telah tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kusta tidak perlu ditakuti. Begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan. Karena itu yang paling penting adalah menemukan kasus sedini mungkin,” ujar Menkes dilansir laman Kemenkes.

Selain pengobatan, Menkes menekankan pentingnya menghilangkan stigma yang selama ini menyebabkan banyak penderita enggan memeriksakan diri hingga akhirnya mengalami kecacatan yang sebenarnya dapat dicegah.

Honorary Chair The Nippon Foundation sekaligus WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, mengatakan penghapusan stigma harus berjalan beriringan dengan upaya penyembuhan penyakit.

Menurutnya, eliminasi kusta tidak hanya berarti mengobati pasien, tetapi juga menghapus diskriminasi yang masih dialami oleh orang yang pernah menderita kusta dan keluarganya.

Pesan tersebut diperkuat oleh kisah penyintas kusta, Syamsul, yang menceritakan pengalaman menghadapi diskriminasi sejak kecil, mulai dari perundungan hingga perlakuan tidak manusiawi akibat minimnya pemahaman masyarakat tentang kusta.

Syamsul berharap penyintas kusta memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, pekerjaan, serta kehidupan bermasyarakat.

“Kami bukan sekadar penerima bantuan. Kami ingin menjadi bagian dari pembangunan dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, tokoh agama, dunia pendidikan, media, dan organisasi kemasyarakatan untuk bersama-sama membangun pemahaman yang benar tentang kusta sehingga tidak ada lagi penyintas yang mengalami diskriminasi akibat penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan.

Editor

Recent Posts

KPK Tangkap Tangan Tersangka Dugaan Pemerasan di Pemkab Sukoharjo

SATUJABAR, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penangkapan terhadap tiga tersangka yang tertangkap tangan…

1 jam ago

Beasiswa Sarjana dalam ‘Satu Desa Satu Sarjana’ di Garut

SATUJABAR, GARUT - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut bersiap membuka kembali pendaftaran program Beasiswa "Satu Desa/Kelurahan…

1 jam ago

Asia Africa Festival 2026: Dari Bandung untuk Kolaborasi Global dan Keberlanjutan

SATUJABAR, BANDUNG - Asia Africa Festival 2026 resmi dibuka di depan Gedung Merdeka, Jalan Asia…

2 jam ago

Saudi Fashion & Tex Expo 2026: Pelaku Usaha Diundang Ikut Serta

Saudi Fashion & Tex Expo 2026. Pameran tersebut akan diselenggarakan pada 24–27 September 2026 di…

6 jam ago

Misi Indonesia di INNOPROM 2026, Ini Hasilnya

SATUJABAR, JAKARTA - Indonesia menutup keikutsertaannya sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026 dengan berbagai…

6 jam ago

OJK Serahkan Tersangka Kasus PT BPR Sawa di Sidoarjo

SATUJABAR, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menuntaskan penyidikan perkara dugaan tindak pidana perbankan yang…

6 jam ago

This website uses cookies.