Berita

Kenapa Industri Antariksa Global Geser Eksplorasi ke Bulan? Ini Penjelasan BRIN

SATUJABAR, BOGOR – Kajian mengenai perkembangan industri antariksa menunjukkan bahwa arah riset dan inovasi teknologi sangat dipengaruhi oleh pola investasi global. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eriko Nasemudin Nasser mengatakan bahwa strategi misi antariksa kini menempatkan Bulan sebagai tahap awal pembangunan infrastruktur sebelum menuju Mars.

“Bulan lebih realistis untuk dieksplorasi dan dikembangkan karena memiliki berbagai sumber daya, seperti oksigen, aluminium, silikon, ilmenit, dan unsur tanah jarang, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan dasar misi jangka panjang, termasuk air, oksigen, dan bahan bakar roket,” terang Eriko dalam Kolokium Series 5 bertema Penerapan Model Based System Engineering (MBSE) pada Proyek Ruang Angkasa, yang digelar secara hibrida di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, Selasa 12 Mei 2026, seperti dilansir laman BRIN Kamis 14 Mei 2026.

Eriko menyebutkan pentingnya systems engineering untuk mengintegrasikan komponen misi serta menyeimbangkan performa, risiko, jadwal, dan anggaran. Ia mencontohkan rover penambang di Bulan yang dirancang dari berbagai subsistem seperti roda, navigasi, komunikasi, serta perlindungan terhadap suhu ekstrem dan radiasi,  agar seluruh komponen kompatibel dan bekerja optimal.

Di sisi lain, menurut Eriko, ada beberapa alasan eksplorasi bulan lebih realistis dalam melakukan riset antariksa lainnya, seperti eksplorasi asteroid. Dikatakannya, eksplorasi asteroid menghadapi tantangan teknologi, biaya, dan paparan radiasi di luar perlindungan medan magnet Bumi, sehingga wahana memerlukan komponen elektronik dengan ketahanan radiasi tinggi.

“Komponen elektronik umum hanya mampu bertahan pada 5 hingga 20 kilorad, sedangkan misi antariksa memerlukan ketahanan yang jauh lebih tinggi,” jelasnya.

BACA JUGA: Harga Emas Kamis 14/5/2026 Antam Rp 2.839.000 Per Gram

Selain radiasi, biaya misi menjadi kendala utama. Eriko mencontohkan misi OSIRIS-REx milik NASA yang menelan biaya sekitar 1,1 miliar dolar Amerika Serikat untuk pengambilan sampel asteroid Bennu. Perusahaan rintisan asteroid mining berhenti sejak 2018, sehingga fokus bergeser ke pemanfaatan sumber daya di Bulan.

Di sisi lain, Eriko menjelaskan bahwa salah satu pendekatan untuk membaca perkembangan teknologi adalah melalui konsep hype cycle. Konsep ini menggambarkan tahapan perkembangan mulai dari kemunculan, peningkatan popularitas teknologi hingga mencapai fase produktif, dan dapat digunakan untuk melihat perkembangan berbagai teknologi, tidak hanya di industri antariksa.

“Dasarnya adalah ke mana investor menginvestasikan dananya. Ketika investasi bergerak, arah riset ikut mengikuti,” ujarnya.

BACA JUGA: Kandang Kambing Kebakaran di Lembang, 30 Ekor Buat Hewan Kurban Mati Terpanggang

Ia menjelaskan, sejumlah teknologi antariksa masih berada pada tahap awal pengembangan, seperti space elevator, in-space recycling, dan in-space construction. Sementara itu, teknologi observasi bumi, seperti optical observation dan synthetic aperture radar (SAR), diperkirakan akan mencapai fase produktif dalam dua hingga lima tahun ke depan.

“Jika dilihat dari kurva hype cycle, beberapa teknologi observasi bumi sudah mendekati fase produktif,” kata Eriko.

Berbeda dengan teknologi observasi bumi, asteroid mining dinilai mengalami penurunan minat sebelum berkembang optimal. Eriko menyebut teknologi ini sempat menarik perhatian karena potensi ekonominya besar, bahkan sejumlah perusahaan rintisan menyusun basis data asteroid beserta estimasi nilai berdasarkan ukuran dan kandungan materialnya.

“Setiap asteroid diberi valuasi, mulai dari miliaran hingga triliunan dolar Amerika Serikat, tergantung pada komposisi materialnya, seperti air, hidrogen, logam, besi, dan nikel,” ungkapnya.

Salah satu asteroid yang banyak dikaji adalah Ryugu melalui misi Hayabusa2 milik badan antariksa Jepang (JAXA). Eriko menjelaskan, misi yang berlangsung 2014–2020 itu hanya melakukan pengambilan sampel dalam hitungan detik.

SIMAK: Follow TikTok Satujabar.com

Editor

Recent Posts

Mahasiswi Unpad Jadi Korban Begal, Kampus Berikan Pendampingan

SATUJABAR, SUMEDANG--Mahasiswi Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi korban begal hingga sempat dilindas sepeda motor pelaku, di…

30 menit ago

Liga Jabar Istimewa 2026 Resmi Bergulir

SATUJABAR, KUNINGAN — Liga Jabar Istimewa 2026 resmi digulirkan Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar untuk…

1 jam ago

Jembatan Ambruk di Bogor, Pemkab Sigap Pasang Bailey

SATUJABAR, TANJUNGSARI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) gerak cepat menangani…

1 jam ago

Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026, Sabtu di Kota Bandung, Ini Rutenya

SATUJABAR, BANDUNG - Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 siap digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat…

2 jam ago

El Nino Godzilla, Pemkot Siapkan Stok Air Bersih

SATUJABAR, BANDUNG – El Nino Godzilla atau musim kemarau ekstrem diproyeksikan terjadi pada Mei-Oktober 2026…

2 jam ago

Thailand Open 2026: Tinggal Leo/Daniel yang Melaju Ke Semifinal

SATUJABAR, BANGKOK – Thailand Open 2026 memasuki babak delapan besar yang digelar pada Jum’at 15…

2 jam ago

This website uses cookies.