Penguatan kerja sama kebudayaan Indonesia-Timor Leste.(Foto: Kementerian Kebudayaan / Vidhy Fellizano Sfinoza)
JAKARTA – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melaksanakan pertemuan bersama Menteri Muda Bidang Seni dan Budaya Timor-Leste, Mr. Jorge Soares Cristovão. Bertempat di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, pertemuan strategis ini membahas penguatan kerja sama kebudayaan kedua negara, termasuk pengelolaan museum dan perpustakaan, pelestarian warisan budaya bersama, serta pengembangan berbagai program pertukaran dan kolaborasi budaya.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Kebudayaan menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Timor-Leste atas dukungannya terhadap pencalonan Indonesia sebagai anggota Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO periode 2026–2030. Menurutnya, hubungan baik kedua negara dapat terus diperkuat melalui berbagai kerja sama kebudayaan. Sejalan dengan hal tersebut, Menbud Fadli Zon turut menyampaikan komitmen untuk mengembangkan aspirasi Center of Excellence for World Heritage yang tengah dirancang sebagai platform pembelajaran, peningkatan kapasitas di bidang warisan budaya, dan pertukaran pengetahuan.
Berbagai peluang kolaborasi juga dapat dikembangkan, mulai dari aktivasi kembali Rumah Budaya Indonesia di Dili sebagai ruang kolaborasi dan interaksi kebudayaan kedua negara, penjajakan joint nomination Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO, hingga pengembangan kegiatan Indonesia-Pacific Cultural Synergy.
“Karena ada banyak persamaan budaya, kita dapat mengeksplorasi kemungkinan joint nomination warisan budaya takbenda ke UNESCO. Selain itu, kami mengundang negara-negara di Pasifik untuk residensi bidang budaya di ISI Yogyakarta, termasuk dari Timor-Leste. Menurut saya ini satu kesempatan yang bagus untuk terutama seniman-seniman muda berkolaborasi,” ungkap Menbud Fadli Zon dikutip laman Kemenbud.
Jorge Soares Cristovão, Menteri Muda Bidang Seni dan Budaya Timor-Leste, menyambut baik gagasan tersebut. Ia juga menyampaikan peluang untuk mengembangkan kerja sama dalam bidang musik dan kain tradisional, termasuk mengeksplorasi nominasi bersama untuk Warisan Budaya Takbenda lainnya yang memiliki keterkaitan di kedua negara.
“Secara kultur, kita tidak bisa memisahkan Timor-Leste, terutama masyarakat di wilayah perbatasan, karena kebudayaan di wilayah tersebut memang sudah menyatu. Karena itu, kolaborasi dan joint nomination menjadi sangat penting untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya bersama,” jelas Jorge.
Selain itu, Jorge Soares Cristovão turut menyampaikan sejumlah rencana kerja sama yang dapat dikembangkan, khususnya kerja sama dengan perpustakaan dan museum. “Proses konstruksi bangunan Perpustakaan Nasional di Timor-Leste tahun depan sudah selesai. Kedepan diharapkan kerja sama dapat terjalin dengan Perpustakaan Nasional Indonesia untuk pelatihan para staf mengenai pengelolaan perpustakaan, serta pelatihan dan pengelolaan katalog. Selain itu, konstruksi Museum Nasional akan selesai di pertengahan 2028. Ke depan perlu membuat suatu kerjasama dengan Museum Nasional Indonesia untuk pengelolaan dan implementasi museum,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan Kementerian Kebudayaan terbuka untuk mendukung peningkatan kapasitas pengelolaan perpustakaan dan museum di Timor-Leste, termasuk melalui pengiriman tenaga ahli apabila diperlukan.
“Untuk perpustakaan dan museum, apabila diperlukan, kami dapat membantu melalui pertukaran keahlian, termasuk dalam hal tata pamer dan pengelolaan koleksi. Kami juga dapat berbagi pengalaman mengenai program Museum Passport yang menjadi salah satu inovasi untuk memperkenalkan museum kepada masyarakat,” ungkap Fadli Zon.
Pembahasan juga mencakup penguatan kembali nilai historis dan hubungan budaya Indonesia-Timor-Leste di Anjungan Timor-Timor, Taman Mini Indonesia Indah. Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa Museum Timor-Timor di kawasan tersebut ke depan akan diarahkan menjadi Museum Persahabatan Indonesia-Timor-Leste.
Turut hadir dalam pertemuan ini, Duta Besar Timor-Leste untuk Republik Indonesia, Roberto Sarmento de Oliveira Soaresi; Direktur Nasional Perpustakaan dan Museum Timor-Leste João Fatima da Cruz; Perwakilan Kementerian Pemuda, Olahraga, Seni dan Budaya Timor-Leste Carlos da Costa dan Octaviano de Asunção Monis Mota; Sekretaris II Joanico Gomes; Sekretaris III Remigio Coa; Staf Kementerian Kebudayaan Timor-Leste Oldegario Valentim Cristovão; serta Staf Kedutaan Besar Timor-Leste Naufal Alif. Hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, diantaranya Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Ahli Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri; dan Direktur Promosi Kebudayaan, Wawan Yogaswara.
Menutup dialog, kedua belah pihak sepakat untuk menindaklanjuti rencana penyusunan MoU, serta berbagai peluang kolaborasi yang telah dibahas. Kolaborasi tersebut diharapkan semakin mempererat persahabatan Indonesia dan Timor-Leste serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang kebudayaan.
SATUJABAR, JAKARTA - Ketepatan waktu Whoosh mencapai 99,4% sepanjang Semester I 2026, ungkap KCIC melalui…
SATUJABAR, CIANJUR--Dua orang tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa tabrakan melibatkan dua kendaraan,…
Tiket Whoosh untuk periode libur Kemerdekaan RI sudah dapat dibeli melalui seluruh kanal penjualan resmi…
SATUJABAR, JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas…
SATUJABAR, CIBODAS - Kebakaran hutan di sekitar kawasan Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango…
Gajah Yuna, gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun dari induk Gajah Suci, dinyatakan…
This website uses cookies.