Indonesia-OceanX Siap Eksplorasi Laut Dalam Indonesia
Tiga target mineral pasar global: nodul polimetalik, sulfida masif dasar laut, serta kerak feromangan kaya kobalt. Proyeksi kandungan di Kawio Barat (gunung api bawah laut Sangihe), Komba Ridge (Flores), Jailolo (perairan Halmahera Barat), hingga ke Cekungan belakang Busur Banda.
SATUJABAR, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi besar mineral laut dalam Indonesia sebagai kunci masa depan energi global. Di tengah pergeseran dari energi fosil menuju energi baru terbarukan, kekayaan yang tersembunyi di dasar samudra dinilai menjadi sumber daya strategis yang semakin penting untuk dieksplorasi secara ilmiah dan berkelanjutan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Noor Cahyo Dwi Aryanto, menjelaskan bahwa keterbatasan sumber daya tambang di daratan serta meningkatnya kebutuhan mineral untuk teknologi energi mendorong eksplorasi ke wilayah laut dalam. “Era energi fosil telah mencapai batas, dan kini dunia bergerak menuju energi alternatif berbasis mineral,” ujarnya dalam webinar DIGDAYA #21 (Diskusi Geologi Sumber Daya), Rabu (22/04/2026) seperti dikabarkan Humas BRIN.
Menurut Cahyo, terdapat tiga jenis deposit utama yang menjadi target global, yaitu nodul polimetalik, sulfida masif dasar laut (seafloor massive sulfides), serta kerak feromangan kaya kobalt. Di Indonesia, indikasi keberadaan mineral tersebut tersebar di sejumlah wilayah strategis seperti
Kawio Barat (gunung api bawah laut Sangihe), Komba Ridge (Flores), Jailolo (perairan Halmahera Barat), hingga ke Cekungan belakang Busur Banda.
Salah satu temuan penting, kata Cahyo, berasal dari perairan Komba dan Banda, di mana peneliti menemukan anomali suhu air laut yang justru meningkat seiring kedalaman. Fenomena ini menunjukkan adanya sistem hidrotermal aktif di dasar laut yang membawa berbagai mineral logam bernilai tinggi seperti tembaga, seng, perak, hingga emas.
Namun demikian, menurutnya, eksplorasi laut dalam menghadapi tantangan besar. Kegiatan ini membutuhkan teknologi canggih seperti Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) untuk menjelajahi dan mengambil sampel di kedalaman ribuan meter. Selain itu, aspek regulasi internasional juga menjadi perhatian, terutama di wilayah laut lepas yang berada di bawah pengawasan International Seabed Authority di bawah naungan PBB.
Sebagai langkah strategis, Indonesia telah menyusun peta jalan eksplorasi mineral laut dalam hingga 2030, yang melibatkan kolaborasi lintas institusi serta penguatan armada riset. BRIN juga tengah mengupayakan pengadaan kapal riset baru guna mendukung kegiatan eksplorasi yang lebih intensif dan terukur.
Meski menjanjikan, Cahyo menekankan bahwa eksplorasi dan pemanfaatan mineral laut harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem laut. Pendekatan berbasis sains dan regulasi yang ramah lingkungan menjadi kunci agar kekayaan bawah laut tidak hanya menjadi solusi energi masa depan, tetapi juga tetap lestari bagi generasi mendatang.
SATUJABAR, CHANGZHOU – China Open 2026 digelar pada 21 hingga 26 Juli 2026. Turnamen papan…
SATUJABAR, BANDUNG – Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Daerah Pemilihan…
SATUJABAR, CHANGZHOU – China Open 2026 digelar pada 21 hingga 26 Juli 2026. Turnamen papan…
12 Penumpang kapal yang merupakan warga asing berhasil diselamatkan Tim SAR Gabungan. Tim kini fokus…
SATUJABAR, BANDUNG - Buruan SAE Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional.…
SATUJABAR, BANDUNG - Bandung kembali menghadirkan ruang apresiasi seni dan budaya melalui penyelenggaraan Bandung Arts…
This website uses cookies.