Seiring dengan perubahan lingkungan dan faktor lainnya, beberapa buah-buahan telah menjadi langka di Indonesia. Beberapa contoh buah-buahan yang mungkin mengalami penurunan populasi atau sulit ditemui di alam bebas antara lain:
Durian Sukang: Durian ini merupakan jenis durian langka yang berasal dari Kalimantan. Ukurannya kecil dan memiliki duri yang lebih tebal dibandingkan durian biasa.
Salak Endemik Sulawesi: Salak yang hanya tumbuh di Sulawesi Selatan, terutama di daerah Maros. Salak ini memiliki kulit yang berbeda dan rasanya yang khas.
Buah Enggak: Buah ini tumbuh di Papua dan memiliki rasa yang asam segar. Karena habitatnya yang terpencil, buah ini sulit dijumpai di tempat lain.
Kepel: Buah ini tumbuh di daerah Jawa dan Bali. Meskipun dulunya populer, sekarang kepel menjadi langka karena sulitnya untuk menanamnya.
Buah Matoa: Asli dari Papua, buah ini memiliki rasanya yang manis dan segar. Namun, perlahan-lahan jumlahnya menurun karena perambahan hutan dan perubahan lingkungan.
Buah Kecapi: Tumbuh di hutan-hutan Indonesia bagian Barat, buah kecapi langka karena terbatasnya habitat alaminya.
Belimbing Wuluh: Meskipun jenis lain dari belimbing masih umum, belimbing wuluh, yang memiliki rasa yang lebih asam, mungkin sulit ditemui di beberapa daerah.
Penting untuk diingat bahwa upaya konservasi dan penanaman kembali dapat membantu mempertahankan keberagaman buah-buahan ini. Namun, perlindungan lingkungan dan konservasi habitat alam tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kelangsungan hidup spesies-spesies ini.