Keindahan alam Kabupaten Fakfak (Kemenparekraf)
BANDUNG – Indonesia terkenal dengan daerah-daerah tujuan destinasi wisata seperti Bali, Raja Ampat, dan lainnya. Namun, banyak tempat wisata yang tidak punya konsep ramah lingkungan. Terkait hal tersebut, ada beberapa negara yang telah mengenal konsep slow tourism dalam berwisata. Konsep ini memastikan adanya keberlanjutan lingkungan.
Hal itu dikupas dalam program diskusi Elaborasi (Eranya Ngobrolin Public Policy) ke-14 yang diselenggarakan Pusat Riset Kebijakan Publik (PRKP) BRIN, Kamis (13/03). Diskusi kali ini membahas pengenalan Slow Tourism, sebagai konsep, praktik, dan peluang kebijakan kepariwisataan berkelanjutan di Indonesia.
Yanuar Farida Wismayanti, Kepala PRKP BRIN mengatakan bahwa slow tourism merupakan konsep baru yang dapat mendukung keberlanjutan lingkungan. “Konsep ini mungkin jika diterapkan di Indonesia dapat mendorong dan mendukung kebijakan pariwisata yang berkelanjutan. Karena inti dari konsep ini untuk memastikan keberlanjutan dari lingkungan dan lainnya. Jadi memastikan semuanya memang terjaga,” ujarnya dilansir laman BRIN.
Basuki Antariksa, Peneliti PRKP BRIN menjelaskan konsep slow tourism sebagai model kepariwisataan berkelanjutan. Dijelaskannya, kebiasaan saat ini, orang-orang berwisata dengan waktu yang sangat singkat. Menurut pandangannya, hal itu pada akhirnya bukan membuat senang malah menimbulkan stres. Arus utama kepariwisataan saat ini pun lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan bisnis.
Melihat kondisi tersebut, maka muncul ide slow tourism. Basuki memberi gambaran, slow tourism pada awalnya muncul dan berkembang dari adanya gerakan slow food, sebagai sebuah aksi menyediakan makanan tradisional di jalanan oleh sejumlah pemerhati kota di Roma, Italia.
Basuki menjelaskan bahwa gerakan itu muncul setelah didirikannya restoran cepat saji yang menyimbolkan kecepatan dalam menyajikan makanan. Jadi, orang berpikir yang jadi masalah adalah karena kita melakukan sesuatu dengan terlalu cepat. Ia memandang, dari segi makanan pun sebetulnya tidak sehat karena lebih sehat makanan tradisional. Sehingga muncul aksi protes yang pada akhirnya menjadi dasar dari berkembangnya slow tourism.
Dikatakannya, memang belum ada definisi baku dari slow tourism. Namun, konsep ini bukanlah jenis wisata tetapi merupakan sebuah pendekatan wisata yang tidak terburu-buru. Maksudnya, tidak berarti pelan tetapi melakukan aktivitas berwisata dengan kecepatan seperlunya.
Basuki lantas mempertegas, Slow tourism juga sebetulnya bukan musuh dari fast tourism tetapi mass tourism. Lantaran slow tourism sebagai sebuah konsep yang sifatnya menyeluruh (holistik). Yaitu, berbicara tentang bagaimana kita mengurangi dampak terhadap lingkungan, berusaha berada lebih lama di destinasi wisata, membeli produk lokal, dan lainnya. Dengan begitu, seseorang dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, membantu perekonomian lokal, mendapatkan sesuatu yang bermakna, dan dapat menikmati wisatanya.
Basuki juga menerangkan tantangan membangun slow tourism. Yaitu target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, parameter keberhasilan kinerja pembangunan mengikuti standar internasional, isu kualitas hidup (termasuk kebahagiaan), juga masih bersifat marjinal. Dipandangnya, konsep ini masih perlu perubahan perilaku wisatawan, juga orientasi dari pertumbuhan ekonomi menjadi pembangunan ekonomi, dan lainnya.
Dari sisi kebijakan, konsep ini menentukan ada pembatasan jumlah kunjungan wisatawan, penggunaan berbagai alat ukur untuk pembatasan pertumbuhan di bidang kepariwisataan, mempertahankan lahan produktif, mendorong penggunaan sarana transportasi umum dan/atau ramah lingkungan, serta lainnya.
Roby Ardiwidjaja, Peneliti Pusat Riset Ekonomi, Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN juga menanggapi konsep ini sebagai pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan yang berkualitas. Ia menjelaskan dengan rinci hasil analisis situasi mengenai perkembangan pariwisata, berbagai isu-isu strategis, dan kebijakan pariwisata di tingkat global maupun nasional. Lalu tentang daerah-daerah destinasi slow travel tourism di dalam dan luar negeri. Hingga bagaimana formula dan implementasi strategi pariwisata di Indonesia.
Menurut Roby, kunci dari slow tourism yaitu kerangka berpikir dari wisatawan itu sendiri. Baginya, hal-hal yang ingin didapatkan dari slow tourism adalah pengalaman nyata dan pengetahuan yang baru dari berwisata. Lalu ia menjelaskan salah satu isu strategis nasional yang perlu diperhatikan. Di mana, pada umumnya berbagai pembangunan termasuk pembangunan pariwisata seringkali melupakan keberlanjutan.
Akibatnya, meningkat kerusakan lingkungan dan degradasi budaya dan emisi gas buang. Ia melihat, penyelenggaraan pariwisata konvensional masih fokus pada wisata masal. Maka terjadi perubahan tren wisatawan yang menuntut produk wisata menampilkan lokalitas. Hal ini memicu munculnya konsep-konsep pariwisata baru, salah satunya konsep slow tourism.
Hingga kini slow tourism masih terus diteliti beberapa negara maju untuk dikembangkan sebagai konsep wisata yang fokus pada upaya negasi terhadap kondisi wisata masal. Hal ini masih terbuka untuk terus dikembangkan guna memperkuat aspek terminologi, definisi, dan konsep.
“Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata pun belum melakukan identifikasi produk-produk slow tourism,” ungkapnya. Untuk itu, kedua peneliti ini merumuskan, salah satunya pengolahan makanan. Contohnya, implementasi strategi slow tourism melalui wisata kuliner dan gastronomi.
Hal itu dapat menumbuhkembangkan sumber daya tarik seni kuliner gastronomi lokal. Selain itu, mengembangkan ekonomi lokal dan peningkatan taraf hidup masyarakat lokal, melestarikan budaya dan lingkungan, serta meningkatkan kepuasan wisatawan memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru.
Roby lantas menunjukkan bagan tata kelola destinasi pariwisata berkelanjutan yang sudah di-rekognisi oleh UN Tourism (Organisasi Pariwisata Dunia). Terdiri dari 4 pilar, 10 kriteria, 38 sub kriteria, 174 indikator. Semua berhubungan dengan 17 program SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Pedoman ini dapat digunakan sebagai contoh untuk membuat kebijakan pariwisata.
Sumber: Humas
SATUJABAR, BOGOR -- Seorang pengendara sepeda motor 'nyasar' masuk ke Jalan Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi), saat…
BANDUNG -– Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Dr. Akhmad Wiyagus bersama dengan Kapolres Bogor AKBP…
Mahasiswa tidak hanya dibebaskan dari biaya kuliah, tetapi juga mendapatkan tunjangan biaya hidup. SATUJABAR, BANDUNG…
Kapal tersebut sedang dalam perawatan dan tidak termasuk dalam lintasan Merak–Bakauheni, sehingga tidak mengganggu arus…
BANDUNG - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bandung akan menggelar kegiatan Imbauan Simpatik…
“Mande Padang Banana Leaf”, sebuah restoran yang terletak di Jalan Dipatiukur, Bandung, hadir dengan konsep…
This website uses cookies.