Tanaman kunyit.(Image: BRIN)
SATUJABAR, JAKARTA – Kabar gembira dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bakteri aktinomisetes yang hidup di tanah rhizosfer (sekitar akar/rimpang) kunyit (Curcuma longa L.). Bakteri ini berpotensi menghasilkan senyawa antikanker yang efektif melawan sel kanker payudara, dengan tingkat toksisitas yang sangat rendah terhadap sel normal.
Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN menyebutkan bahwa temuan ini merupakan hasil riset kolaboratif antara tim BRIN dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Hasil penelitian dipublikasikan di Journal of Applied Pharmaceutical Science Vol. 15 No. 3 (DOI: 10.7324/JAPS.2025.218990). Tim peneliti berhasil mengisolasi tujuh bakteri aktinomisetes dari tanah perkebunan kunyit (Karanganyar, Jawa Tengah) dan menguji potensi antikankernya secara in vitro terhadap sel kanker payudara T47D.
Aniska Novita Sari, peneliti Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional sebagai perwakilan tim peneliti menyampaikan bahwa hasil pengujian in vitro menunjukkan bahwa salah satu isolat, yaitu TC-ARCL7, memiliki aktivitas antikanker yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 0,2 µg/ml, jauh lebih rendah dibandingkan obat kemoterapi doxorubicin, kurkumin murni, maupun ekstrak etanol kunyit. Menariknya, isolat ini juga menunjukkan toksisitas yang sangat rendah terhadap sel normal (Vero), sehingga memiliki indeks selektivitas yang tinggi.
“Temuan ini menunjukkan bahwa potensi anti-kanker tidak selalu berasal langsung dari tanaman obat, namun mikroba yang hidup di sekitarnya juga berpotensi memiliki aktivitas yang sama dengan inangnya dan berpeluang dikembangkan lebih lanjut. Pendekatan ini dinilai dapat menjadi alternatif dalam pengembangan obat berbasis bahan alam dengan biaya produksi yang lebih efisien dan sumber daya yang berkelanjutan,” ujar Aniska saat diwawancara Humas BRIN secara daring, Senin (02/02) dilansir laman BRIN.
Aniska menambahkan secara molekuler, isolat TC-ARCL7 diketahui memiliki klaster gen biosintesis poliketida (PKS1 dan PKS2) yang diperkirakan berperan penting dalam produksi metabolit sekunder antikanker. Identifikasi genetik menunjukkan bahwa bakteri ini berkerabat dekat dengan Kitasatospora misakiensis dan Kitasatospora purpeofusca, kelompok bakteri yang dikenal mampu menghasilkan berbagai senyawa bioaktif farmasi.
Menurutnya, penelitan ini masih di tahap awal dan masih panjang prosesnya. Aniska dan tim berkomitmen untuk melanjutkan riset, termasuk pemurnian senyawa aktif, optimasi produksi metabolit, hingga uji pra-klinik, sebelum dapat dikembangkan sebagai kandidat obat antikanker baru yang aman dan efektif sehingga bermanfaat bagi yg membutuhkan.
SATUJABAR, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melantik 43 pejabat pimpinan tinggi pratama…
SATUJABAR, JAKARTA - Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengindikasikan harga properti residensial…
SATUJABAR, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati keputusan Moody's Investors Service (Moody's) yang mempertahankan…
SATUJABAR, BANDUNG – Warga Kota Bandung patut berbangga dimana salah satu warganya bahkan masih terbilang…
SATUJABAR, QINGDAO CHINA – Tim putra Indonesia melaju ke babak semifinal Badminton Asia Team Championship…
SATUJABAR, QINGDAO CHINA – Tim putri Indonesia melaju ke babak semifinal Badminton Asia Team Championship…
This website uses cookies.