Asian Games 2026
JAKARTA — Sukses besar saat menjadi tuan rumah Asian Games 1962 dan 2018 kini menjadi standar tinggi bagi kontingen Indonesia jelang Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.
Dalam dua edisi legendaris tersebut, Indonesia berhasil mengukir tinta emas: finis di peringkat kedua pada 1962 dengan 21 emas, serta menduduki posisi keempat pada 2018 lewat rekor fantastis 31 emas.
Namun, menatap laga di Negeri Sakura, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Bertanding di luar rumah berarti Indonesia tak lagi menikmati riuhnya dukungan suporter sendiri maupun hadirnya cabang olahraga pendulang emas lokal seperti pencak silat pada 2018.
Berkaca dari sejarah, panggung Asian Games 2026 bukan sekadar ajang perburuan medali, melainkan pembuktian konsistensi dan kematangan tradisi juara Indonesia—khususnya di cabang unggulan seperti bulu tangkis, angkat besi, dan panjat tebing—untuk tetap berdiri gagah di papan atas Asia.
Kirimkan 432 Atlet
Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) secara resmi menetapkan kontingen Indonesia yang akan berlaga pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Sebanyak 432 atlet dari 35 cabang olahraga akan membawa Merah Putih bersaing di ajang olahraga terbesar di Asia yang berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober 2026 mendatang.
Jumlah itu akan ditambah 148 pelatih dan official serta 32 orang tim Chef de Mission (CdM). Komposisi tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh antara tim review Kemenpora dan Komisi Sport NOC Indonesia bersama federasi cabang olahraga terhadap kesiapan atlet, peluang prestasi.
Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa Tim Indonesia berangkat dengan optimisme tinggi untuk melanjutkan tren positif prestasi olahraga nasional di level Asia.
“Asian Games bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi panggung untuk menunjukkan bahwa olahraga Indonesia terus berkembang dan mampu bersaing dengan negara-negara terbaik di Asia. Seluruh atlet yang berangkat telah melalui proses seleksi dan persiapan yang maksimal. Kini saatnya mereka tampil percaya diri, memberikan yang terbaik, dan mengharumkan nama Indonesia,” kata Okto, sapaan karib Raja Sapta Oktohari seperti dikutip laman Kemenpora.
Selain cabang olahraga yang mendapat dukungan pendanaan melalui APBN, terdapat tiga cabang olahraga yang berangkat melalui skema pendanaan mandiri, yakni tinju, anggar dan tenis meja. Pendanaan tersebut berasal dari federasi masing-masing dan dukungan para mitra.
Namun, Meski menggunakan skema pembiayaan yang berbeda, Komite Olimpiade Indonesia menegaskan bahwa tidak ada perbedaan target maupun tanggung jawab prestasi bagi seluruh atlet yang tergabung dalam Tim Indonesia.
“Tidak ada perbedaan antara cabang olahraga yang didukung melalui APBN maupun yang berangkat secara mandiri. Ketika mereka resmi menjadi bagian dari Tim Indonesia, maka tanggung jawabnya sama, yaitu memberikan penampilan terbaik dan berjuang meraih medali untuk Indonesia. Skema pendanaan boleh berbeda, tetapi target prestasi tetap sama,” tegas Okto.
SATUJABAR, JAKARTA – Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur menggunakan gini ratio adalah sebesar…
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, turun 0,03 persen poin dibanding…
JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan angka kemiskinan di Indonesia pada periode Maret…
SATUJABAR, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) resmi merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk triwulan…
SATUJABAR, BANDUNG - Liburan yang berkesan di Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung melalui program spesial Merdeka…
SATUJABAR, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berkomitmen untuk memperkuat respons lintas sektor…
This website uses cookies.